"Life is never flat" kata-kata ini cocok untuk menggambarkan profesiku. Ini adalah kali kedua dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, aku menolong persalinan di dalam mobil. Kejadian pertama, di dalam sebuah mobil sedan milik pasien. Kronologis singkatnya, si ibu yang akan melahirkan anak pertama ini mengeluh mulas sejak subuh, lalu saat datang ke ugd sudah pembukaan lengkap dan kepala janin sudah ada di depan vulva (Crowning). Saat mobil itu datang dan parkir di depan UGD, aku baru akan pulang setelah jaga malam di UGD. Sekilas saat membuka mobil pasien, dengan keadaan seperti itu tidak mungkin membawa pasien ke dalam UGD. Akhirnya dengan cukup keras teriak2, "mas panggil bidan, mas ambil 2 klem, gunting, kasa, betadin, handscoen" instrumen yang minim tersebut datang. Dengan memposisikan kaki ibu pada posisi litotomi, aku membantunya mengedan, sembari menahan kepala bayi supaya tidak merobek perineum si ibu. Lalu saat kepala sudah lahir, kutunggu kepala tersebut berputar (Paksi luar) dan kularang si ibu mengejan. Kemudian dengan sedikit mengejan, kubantu melahirkan bahu dan seluruh badan bayi tersebut. Kejadian tersebut sangat cepat, sehingga aku tidak menyadari ternyata bidan-bidan muda sudah ada di belakangku. Setelah memotong tali pusat bayi, bayi segera di bawa oleh bidan. Kulanjutkan mengeluarkan plasentanya. Berusaha tidak panik dan menenangkan si ibu, akhirnya si plasenta dapat dikeluarkan dengan lengkap. Kontraksi rahim baik, tidak ada perdarahan dan robekan perineum. Rasanya seperti melepaskan ikatan tali yang melilit dada, plongggg.... Selanjutnya sementara ibu tadi "dirapihkan" oleh perawat, aku ngacir ke ruang bersalin menengok si neonatus tadi. Kulitnya yang merah dan gerakannya yang lincah, benar-benar bikin keringatku kering, diganti dengan senyum. Periksa fisik si bayi, tidak ada kecacatan. Pekerjaan tuntas, aku segera pulang. Alhamdulillah.
Kejadian yang kedua terjadi di ambulance. Hari sabtu, menunggu jam 5 sore, aku akan di jemput suami ke wallstreet bareng, lanjut nonton, asiiik pacarannn. Tapi jam 14:00 siang itu, telepon dari ruang bersalin "Dok, tolong antar pasien di rujuk ke rs pondok indah, bumil dengan hipertiroid, pembukaan 6". Mulai degdegan... "Emangnya berapa tensinya? kok gak lahir di sini?" tanyaku. "140/100 dok, SpOG-nya bilang gak bisa lahir di sini. Ibunya pakai asuransi juga dok, dia minta ke RSPI" jawab bidan di telepon. Agak berpikir sedikit... kan kita punya ICU, dokter anestesi juga ada, kenapa harus dirujuk, kalau ada apa-apa di jalan? Urungkan niat bertanya seperti itu... Setelah solat Zuhur terburu-buru, langsung naik ambulance dan berangkat ke RSPI. Duduk di mobil, sambil baca2 status pasien... hmmm ok kita masih punya waktu ke sana... pembukaan 6 cm, anak ke-2, tidak ada riwayat partus presipitatus. Posisi dudukku ada di belakang kepala pasien, bidannya ada di samping pasien. Ibu tadi berteriak-teriak, kutenangkan bahwa dia akan mendapat perawatan yang baik setibanya di RS dan jangan mengedan karena belum waktunya. Namun si ibu terus teriak, saat kuminta bidan memeriksa keadaan "di bawah sana", ternyata kepala bayi sudah tampak!!! Kok bisa-bisanya??? aarggghh... Langsung kubuka partus set yang sudah disiapkan sebelum naik ambulance, dan gak ada Handscoennya!! Kali ini karena posisi bidan di sebelah pasien, maka bidan tadi menahan kepala bayi. "Jangan panik, tunggu putar paksi dulu, jangan tarik2!!"... "Ini sudah putar paksi dokkk..." akhirnya bayi keluar dengan lilitan tali pusat 2x!!! tidak menangis!! agak pucat!!... Keringat dingin langsung banjir, takutnya leher janin tercekik, kurang oksigen karena lilitan tali pusat. Langsung ku ambil alih, lap bayi pakai kain seadanya, baru beberapa detik langsung nangis, hhh... legaaaaaaa. Kulirik si ibu... rupanya dia baik-baik saja, "ya Allah please, selamatkan semuanya". "Pak supir, tetap fokus menyetir, tak usah tergesa-gesa, semuanya baik-baik saja" ujarku. Setiap bagian dari persalinan selalu punya resiko. Aku berdoa, supaya si ibu tidak kejang, karena tensinya tinggi, dan karena tidak ada obat kejang yang disiapkan di partus set tadi!!! (marah). Ku keluarkan pelan2 plasenta ibu. Ibu dan keluarganya sangat kooperatif. Tidak ada perdarahan, plasenta utuh, kontraksi rahim baik. Alhamdulillah. Bayi lucu itu lalu ku gendong, dekap erat2, sampai ke RS. Bidan menghubungi dokter SpOG. Ternyata dokter SpOG menyarankan, kalau mau balik lagi ke RS kita, tidak apa2. Hmmm... Setelah mengingat perjuangan tadi, akhirnya kuputuskan, "pak supir, ayo kita lanjutkan perjalanan sampai ke RSPI. Ibu, selamat ya kelahiran putrinya. Nanti sampai di RS ibu akan dirawat dengan baik".
Ya Allah, jadikan aku dokter yang baik. Amin.