Sabtu, 05 Mei 2012

menjadi asisten

Setelah sebulan ditempatkan di bangsal kebidanan, saya dialihkan menjadi asisten operator kasus-kasus obgyn. Tidak tau apakah memang dialihkan atau tidak, intinya di sini, tidak ada kurikulum belajar yang tertulis. Jadi sudah dua bulan ini hampir tiap hari ada saja panggilan dari kamar operasi utk membantu operator. Seringnya dimarahi sudah jadi makanan sehari-hari (pedih....). Wajar sih sebenarnya, karena memang saya tidak mengerti, tidak punya pengalaman dan tidak belajar giat (ini yang fatal). Di kamar operasi ada 2 asisten operator, yaitu asisten pertama dan kedua. Asisten pertama ini adalah asisten andalan dokter, karena saat operasi dia sudah sangat paham apa yang sedang dokter senior lakukan dan apa yang selanjutnya dokter senior lakukan. Dia bisa inisiatif minta alat kepada asisten alat, karena dia tahu yang akan dikerjakan Sedangkan Asisten kedua adalah orang yang memegang alat-alat berat, yaitu beragam garpu untuk fiksasi saat operasi, guntingin benang (mirip tukang jahit) dan suction (kaya tukang bersihin jamban). Yup, saya asisten kedua yang belum mengerti apa-apa. Hari demi hari saya jalani sekuat mental (ciyehhh), kadang kutengok youtube untuk mengulang pelajaran anatomi (maklum sobotanya ditinggal di jakarta).

Seiring berjalannya waktu, mulailah saya secuil demi secuil mengerti dan mempelajari. Hampir tiap hari ditempa kasus operasi yang sama, yaitu histerektomi vaginal dan abdomen, andektomi, masektomi, limfadenektomi. Kini saya mulai diberi kepercayaan dengan menjadi asisten pertama (biasanya gara-gara kebetulan dan bukan dijadwalkan, hiks). Namun berpikirlah positif, semoga itu semua memang rencanaNya.
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar